Minggu, 29 Mei 2016

Pendidikan Islam

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Belakangan ini, acapkali lembaga pendidikan formal mendapat kritikan mengenai kualitas dan kuantitas siswa dalam memahami ilmu pengetahuan dan perkembangan minat dan bakat siswa. Biasanya pendidikan formal akan menuntut siswanya agar mampu dalam setiap mata pelajaran yang telah diajarkan oleh guru mereka, sehingga mereka merasa tertekan dan tak mampu memilih pelajaran mana yang mereka sukai dengan yang tidak mereka sukai.
Hal demikian justru akan membunuh minat dan bakat siswa yang seharusnya dikembangkan. Oleh karenanya pemerintah mendirikan sebuah wadah berlatarbelakang pendidikan, yang sering di sebut sebagai pendidikan alternatif. Pada dasarnya pendidikan alternative sama dengan pendidikan biasa. Hanya saja di dalam pendidikan alternatif ini kita di berikan kebebasan penuh untuk memilih apa yang akan kita pelajari dan apa yang tidak akan kita pelajari.
Dan kitapun bebas mengembangkan minat dan bakat serta mengasah kemampuan kita. Apalagi dalam pendidikan islam, yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh umat muslim. Namun dalam kenyataannya meskipun ia belajar di pendidikan formal yang berbasic madrasah, mereka masih belum mampu mengaplikasikan pengetahuan tentang pendidikan islam. Olehkarenanya sangat dibutuhkan pendidikan alternative guna menyeimbangkan pengetahuan yang sudah ia dapatkan di sekolah. Adapun hal-hal mengenai model pendidikan islam alternatif akan kami bahas dalam bab selanjutnya.
B.     Perumusan Masalah
1.      Apa pengertian pendidikan alternatif ?
2.      Mengapa ada pendidikan islam alternatif ?
3.      Bagaimana hubungan antara pendidikan islam alternatif dengan tantangan dan tuntutan kehidupan masa kini ?

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Pendidikan Islam
Sebelum membahas tentang pendidikan islam alternatif, kita harus memahami terlebih dahulu tentang pendiidkan islam. Menurut Prof. Dr. Oemar Mohammad Al-thouny al-syaebani ; Pendidikan Islam ialah usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatannya dan kehidupan dalam alam sekitarnya melalui proses kependidikan [1].
Sedangkan menurut Dr. M. Fadil Al-Djamaly mengungkapkan bahwa pendidikan islam adalah proses yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik dan yang mengangkat derajat kemanusiaannya sesuai dengan kemampuan dasar (fitrah) dan kemampuan ajarnya (pengaruh dari luar)[2]. Pendapat tersebut diambil berdasarkan firman Allah dalam Q.S. Ar-rum :30.

“…(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah...”
Jadi, dapat disimpulkan bahwa pendidikan islam adalah suatu usaha untuk mengarahkan tingkah laku individu atau manusia kedalam kehidupan pribadi atau kehidupan masyarakat dan kehidupan alam sekitarnya yang mengangkat derajat kemanusiaannya sesuai dengan fitrah melalui nilai-nilai dan norma-norma syari’ah sehingga dapat tercipta manusia yang berakhlakul karimah.
Pendidikan yang benar adalah yang memberikan kesempatan kepada keterbukaan terhadap pengaruh dari dunia luar dan perkembangan dari dalam diri anak didik. Dengan demikian barulah fitrah itu diberi hak untuk membentuk pribadi anak dan dalam waktu bersamaan factor dari luar akan mendidik dan mengarahkan kemampuan dasar (Fitrah) anak.[3]

B.     Pendidikan Alternatif
Pendidikan alternatif merupakan istilah generik dari berbagai program pendidikan yang dilakukan dengan cara berbeda dari cara tradisional. Secara umum pendidikan alternatif memiliki persamaan, yaitu: pendekatannya berisfat individual, memberi perhatian besar kepada peserta didik, orang tua/keluarga, dan pendidik serta dikembangkan berdasarkan minat dan pengalaman. Menurut Jery Mintz (1994:XI) pendidikan alternatif dapat dikategorikan dalam empat bentuk pengorganisasian, yaitu:
1.      sekolah public pilihan (public choice);
adalah lembaga pendidikan dengan biaya negara (dalam pengertian sehari-hari disebut sekolah negeri yang menyelenggarakan program belajar dan pembelajaran yang berbeda dengan program regular/konvensional, namun mengikuti sejumlah aturan baku yang telah ditentukan).
2.      Sekolah/lembaga pendidikan publik untuk siswa bermasalah (student at risk);
Yaitu sebuah lembaga pendidikan untuk siswa bermasalah. Misalkan asrama khusus untuk para korban pencandu narkoba. Di dalam lembaga ini, mereka dididik dan diterapi agar mereka tidak lagi menggunakan barang-barang yang haram tersebut. Selain itu, mereka dibekali pendalaman dan pemahaman mengenai pendidikan islam, seperti shalat, puasa, dan ibadah-ibadah yang lainnya.
Contoh lainnya adalah sekolah yang didirikan oleh warga yang diperuntukan bagi warga atau masyarakat yang kurang mampu untuk mengikuti pelajaran di pendidikan formal di karenakan masalah biaya. Biasanya sekolah ini dibiayai oleh beberapa lembaga atau perusahaan yang peduli akan pendidikan anak yang kurang mampu. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam UUD ’45, pasal 31 ayat 1 yang secara tegas dijelaskan bahwa : ‘Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran’. Adapula pendidik yang memberikan ilmunya dengan sukarela karena tidak mungkin mengaharap bayaran dari murid.
3.      Sekolah/lembaga pendidikan swasta/independent.
Yaitu sebuah lembaga yang mana memiliki jenis, bentuk dan program yang sangat beragam. Misalkan lembaga yang bercirikan pendidikan islam mempunyai jenis, bentuk dan program yang sangat beragam, termasuk di dalamnya program pendidikan bercirikan agama seperti pesantren & sekolah Minggu. Saat ini sudah banyak sekali lembaga yang mengajarkan secara lebih atau memberikan pemahaman yang lebih dalam kepada peserta didik untuk memahami tentang islam.
Pesantren sangat berperan untuk membantu para peserta didik memperdalam serta belajar untuk mengaplikasikan aturan-aturan atau norma-norma islam dalam kehidupan sehari-hari, seperti halnya shalat berjamaah, dan memberikan sanksi terhadap mereka yang melanggarnya. Biasanya dalam lembaga ini para peserta didik harus tetap berada di asrama pesantren agar mudah di pantau oleh guru atau ustdaz dan ustadzahnya. Sekolah yang lain adalah sekolah yang masuk pada hari sabtu dan minggu. Sekolah ini sepintas seperti Madrasah ibtidaiyah atau sekolah sore.
Dan mata pelajaran yang diajarkan adalah mengenai islam seperti Al-Qur’an Hadist, Fiqh, Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), Aqidah Akhlak, hadist-hadist shohih dan lain sebagainnya. Lembaga ini sangat membantu para siswa untuk mengulang lagi pelajaran yang pernah mereka dapatkan di sekolah formal, karena di sekolah mereka terbatas oleh waktu. Dan masih banyak lembaga-lembaga pendidikan, seperti yayasan yatim-piatu, lembaga khursus, pengajian warga, pengajian ibu-ibu, dan lain-lain.
4.      Pendidikan di rumah (home-based schooling).
Termasuk dalam kategori ini adalah pendidikan yang diselenggarakan oleh keluarga sendiri terhadap anggota keluarganya yang masih dalam usia sekolah. Selain seorang anak dituntut untuk mencari ilmu di sekolah, maka setelah ia pulang ke rumah bukan berarti mereka tidak lagi belajar. Dan guru yang akan membimbing mereka itu adalah orang tuanya dan keluarganya masing-masing.
Ketika berada di keluarga, kehidupan anak serba menggantungkan diri pada orang tua mereka, maka memasuki sekolah di mana ia mendapatkan kesempatan untuk melatih berdiri sendiri dan tanggung jawab sebagai persiapan sebelum ke masyarakat. Dalam islam, tumbuh agama itu dimulai sejak ia masih dalam kandungan. Sejak itulah seharusnya orangtua memberikan pendidikan meskipun tidak secara langsung. Itulah yang disebut dengan pendidikan sejak dalam kandungan.
Dan setelah lahir orang tuanyalah yang menentukan apakah ia seorang muslim atau nonmuslim dan orantuanya pula yang memperkenalkan anaknya kepada agama. Atau Home Schooling ini bisa berupa memanggil guru privat untuk mengajarkan anak tersebut secara khusus, baik sebagai sarana tanya jawab hal-hal yang belum ia pahami maupun hal-hal yang belum ia ketahui sama sekali. Biasanya mereka yang memanggil atau mengundang guru privat adalah orang-orang yang mampu. Karena harus membayar guru tersebut.
Dari berbagai model pendidikan islam alternative diatas, dapat kita pahami bahwa banyak jalan menuju Roma. Sama halnya dengan ungkapan tersebut, banyak jalan atau cara untuk belajar. Pada dasarnya belajar itu tidak harus selalu di lembaga pendidikan formal atau sekolah saja, melainkan di mana pun kita berada dan mendapatkan pengetahuan baru itu pun belajar. Pendidikan alternative ini sangat membantu. Konsep pendidikan islam mencakup kehidupan manusia seutuhnya, tidak hanya memperhatikan segi akidah saja, ibadah maupun akhlak saja, akan tetapi jauh lebih luas.
Adapun model-model pendidikan Islam alternatif. Ada tiga pendekatan yang ditawarkan sebagai pola alternatif pendidikan Islam yaitu pendekatan sistematik (perubahan total) pendekatan suplementer yaitu dengan menambah sejumlah paket pendidikan yang bertujuan memperluas pemahaman, pendekatan komplementer yaitu dengan upaya mengubah kurikulum dengan sedikit radikal untuk disesuaikan secara terpadu sedangkan konsep pendidikannya adalah pendidikannya adalah pendidikan hitegralistik, humanistic, dan gerakan pada bendaya.

Kemudian bari ditarik model pendidikan sila yang lebih operasional yaitu mendesain model pendidikan umum Islami, mendesain model pendidikan Islam yang tetap mengkhususkan pada desain pendidikan keagamaan, seperti yang ada sekarang, model pendidikan Islam yang tidak dilaksanakan di sekolah-sekolah formal tetapi dilaksanakan di luar sekolah, artinya pendidikan agama dilaksanakan di rumah atau lingkungan keluarga, masjid, masyarakat (tempat kursus-kursus, pengajian-pengajian an kajian-kajian keagamaan serta mendesain model pendidikan diarahkan pada dua dimensi yaitu dimensi dialektika (horisontal) dan dimensi ketundukan vertikal (254-2607).[4]

C.    Hubungan Antara Pendidikan Islam Alternatif Dengan Tantangan Dan Tuntutan
Kehidupan masa kini Pendidikan islam menganut prinsip dinamis yang tidak beku dalam tujuan-tujuan, kurikulum dan metode-metodenya, tetapi berupaya untuk selalu memperbaharui diri dan berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Pendidikan islam seyogyanya mampu memberika respon terhadap keutuhan-kebutuhan zaman dan tempat dan tuntunan perkembangan dan perubahan social.
Hal ini sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran islam yang memotivasi untuk hidup dinamis. Mengingat tentang pentingnya pendidikan islam, maka setiap warga atau umat islam dituntut untuk menyeimbangkan antara pendidikan agama dengan pendidikan umum. Dan kehidupan antara dunia dengan akhirat harus seimbang, hal ini dapat direalisasikan secara harmonis apabila sistem pendidikan dan tujuan-tujuan yang hendak dicapai dalam pendidikan nasional dapat dilaksanakan secara professional dan efektif.
Oleh karena itu, pendidikan islam menuntut kepada generasi muda untuk menjadi sorang pemimpin utama yang berjiwa pemberani yang mampu menyelesaikan kepentingan bangsa dan Negaranya. Selain itu, mempersiapkan anak didik untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna bagi agama, bangsa dan Negara. Di era yang semakin canggih ini, bukan berarti kita semakin mudah untuk mengaplikasikan pendidikan islam, melainkan akan lebih sulit dan ini akan menjadi tantangan buat kita selaku calon pendidik untuk menerapkan pendidikan islam.
Misalnya; sekarang ini bukan hanya SD, SMP atau SMA saja yang lebih mengutamakan pendidikan umum dibanding pendidikan islam, namun Madrasah yang berbasis islam pun sama. Meskipun tidak semua Madrasah memprogramkan hal itu, namun secara tidak langsung masih banyak madrasah-madrasah swasta yang memasukan pendidikan islam hanya 2X45 menit dalam seminggu. Jelas ini akan menjadi tantangan khususnya kepada para pendidik dan peserta didik. Dengan waktu yang sangat singkat itu mereka harus mampu mencapai tujuan dan sasaran kompetensi dalam mata pelajaran islam.
Oleh karena, di dirikanlah pendidikan alternative ini guna menyeimbangkan dan menambah waktu yang sangat singkat tadi, sehingga komponen yang ada dalam pendidikan mampu mencapai sasaran yang di tuju. Mereka akan mendapat dan mencapai tujuan pendidikan islam yaitu menjadi insan kami.
Bentuk tantangan yang dihadapi oleh lembaga-lembaga pendidikan islam saat ini meliputi meliputi bidang-bidang berikut:
1.      Politik, karena dalam kehidupan politik kenegaraan, banyak berkaitan dengan masalah bagaimana Negara itu membimbing, mengarahkan, dan mengembangkan kehidupan bangsa dalam jangka panjang.
2.      Kebudayaan, yaitu suatu hasil budi daya manusia, baik bersifat material maupun mental spiritual, dari bangsa itu sendiri atau dari bangsa lain. Suatu perkembangan kebudayaan dalam abad modern saat ini adalah tidak dapa terhindar dari pengaruh kebudayaan bangsa lain.
3.      Ilmu pengetahuan dan tekhnologi adalah suatu segi peradaban dan kebudayaan manusia, dimana perkembangannya yang lebih cepat menjalar ke jantung masyarakat suatu bangsa, merupakan salah satu cirri khas zaman modern saat ini.
4.      Ekonomi adalah suatu aspek pengrtahuan manusia yang memberitahukan tentang bagaimana seharusnya manusia itu beriusaha memenuhi kebutuhan hidup jasmaniahnya.
5.      Kemasyarakatan adalah suatu lapangan hidup manusia yang mengandung ide-ide yang sangat laten terhadap pengaruh kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan tekhnologi.
6.      System nilai adalah suatu tumpuan norma-norma yang dipegang oleh manusia sebagai makhluk individual dan sebagai makhluk social., baik itu berupa norma tradisional maupun norma agama yang telah berkembang dalam masyarakat.

BAB III
KESIMPULAN
Dari berbagai uraian yang telah kami uraikan, dapat disimpulkan bahwa pendidikan islam alternatif adalah pendidikan atau sarana untuk mendapatkan ilmu pengetahuan melalui lembaga pendidikan yang tidak formal yang memperdalam pendidikan islam baik akidah, ibadah, dan pendidikan islam lainnya. Hubungan antara dunia dan akhirat dapat direalisasikan secara harmonis apabila system dan tujuan dapat di laksanakan secara efektif.
Oleh karenanya, generasi muda dituntut untuk menjadi pemimpin utama yang berjiwa pemberani dengan merealisasikan pendidikan islam serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Adapun lembaga yang dapat membantunya dalam menimba ilmu bukan hanya di sekolah formal, melainkan melalui pendidikan alternative yang ada.


[1] Prof. H.M Arifin, M.Ed, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara.1996),p.14.
[2] Ibid,p.17
[3] Ibid, p.18
[4]Hesti solbonita,Model-model Pendidikan Islam Alternatif, 21 Oktober 2011, http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2221351-model-model-pendidikan-islam-alternatif/

Tidak ada komentar:

Recent Posts